Kekuasaan Negara yang Mutlak Menurut Thomas Hobbes

Posted: Januari 26, 2012 in Uncategorized

Thomas Hobbes adalah seorang filsuf dari inggris yang lahir pada tanggal 5 April 1588 di Malmesbury Inggris dan tutup usia pula di negara Ratu Elizabeth itu pada usia 91 tahun tepatnya tanggal 4 Desember 1679 di Derbyshire. Hobbes terkenal karena pandangannya tentang konsep negara serta bidang kajian moral. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Leviathan. Saat Hobbes dilahirkan sedang terjadi gejolak di Inggris. Penaklukan Inggris atas Irlandia dan Skotlandia, konfrontasi yang dilatarbelakangi oleh berbagai sebab, sampai penyerangan pasukan Philips II Spanyol terhadap Inggris menjadi beberapa peristiwa yang mendampingi Hobbes dalam tumbuh kembangnya. Ayah Hobbes merupakan seorang pendeta yang memiliki sifat temperamental karena kurangnya pula pendidikan yang ia punya. Karena  perangainya ini ia bermasalah dengan pihak gereja lalu kabur dari kota itu dan Hobbes kemudian tinggal bersama pamannya selain karena sisi ekonomis yang lebih mapan.

Pada usia 14 tahun, Hobbes menuntut pendidikan di Magdalen Hall, Oxford. Dimana bidang Astronomi menjadi perhatiannya dan terus didalami. Di usia 22 tahun, ia telah memberikan pendidikan pada keluarga bangsawan Earl of Devonshire. Keluarga ini pula yang membiayai Hobbes dalam petualangannya keliling Eropa sehingga banyak memiliki kenalan seperti Rene Descartes, Galileo Galilei, W. Harvey, sampai Francis Bacon yang banyak menginspirasinya. Selain para tokoh ilmuan di atas, pemikiran Thomas Hobbes juga dipengaruhi oleh Plato, Thucydides, Tacitus, Niccolo Machiavelli, Grotius, Selden, serta pemikiran Aristoteles yang kemudian dikritiknya.

Thomas Hobbes pernah menjadi sekretaris dari Francis Bacon. Dalam situasi ini Hobbes memanfaatkannya dengan menimba ilmu dari Bacon mengenai dunia Politik terutama politik otoritarianisme. Filsafat Hobbes merupakan suatu upaya untuk memasukkan ilmu jiwa dalam ilmu fisika yang eksak.[1] Segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki mekanisme, sekalipun kehidupan manusia yang kompleks dimana ada alur atau pola dari mekanisme tersebut yang bisa diperhitungkan. Setiap objek mempunyai prinsip kerja dimana hukum – hukum alam yang menentukan. Jadi segala sesuatu di dunia ini bisa dipahami melalui perhitungan yang tepat dan pasti.

Galileo Galilei mempengaruhi pemikiran Hobbes dalam memahami alam semesta. Mempelajari mengenai manusia dan masyarakat adalah mempelajari mengenai gerak yang berdasar pada alam pikiran manusia. Memahami filsafatnya adalah memahami suatu ajaran mengenai gerak yang menyelidiki hukum – hukum yang didasarkan ilmu pasti dari berbagai gerak.[2] Gerak itu memiliki mekanisme yang sudah pada kodratnya melekat dengan objek tersebut. Alam pikiran manusia berasal dari jiwa dan sifat sosial manusia itu sendiri. Kebahagian manusia berasal dari keinginan manusia tersebut.

Adapun kekuasaan terbesar untuk kebahagiaan manusia adalah negara (Leviathan).[3] Negara adalah wilayah manusia untuk menancapkan taring agar dapat bertahan di dalam kehidupan. Kekuasaan adalah sesuatu yang mutlak dan sudah tentu semua manusia ingin memiliki terlepas dari akal budi manusia. Persaingan dalam perebutan kekuasaan menjadi hal yang wajar dan memang seharusnya seperti itu. Pemenang dalam persaingan tentu akan mendapat kuasa untuk mengambil alih. Karena dalam hal ini perdamaian dan kebahagiaan manusia di dalam negara akan terjadi jika memiliki penguasa yang mutlak harus dipatuhi.

Hukum dan peraturan menjadi pegangan bagi yang berkuasa untuk membatasi ruang gerak rakyatnya. Dengan begitu rakyat akan tunduk dan tidak berbuat sesuatu yang akan memicu terjadinya konflik bahkan perang. Jika rakyat tersebut masih melanggar maka hukuman yang setimpal akan diberikan sampai membuat efek jera. Untuk membuat perdamaian seperti ini tentu dibutuhkan pula pemimpin yang tegas dan kejam agar stabilitas negaranya tetap terjaga. Agama menjadi salah satu pemicu peperangan antar sesama manusia. Perbedaan pandangan terhadap konsep kepercayaan sering menjadi sumber konflik yang berujung terjadinya perang. Penganut agama yang fanatik menjadikannya kaum militan untuk mempertahankan ideologinya. Dalam Leviathan, Hobbes menjelaskan bahwa agama sebagai bentuk ketakutan umat manusia terhadap hal – hal yang sifatnya gaib. Ia kemudian menganggap agama sebagai takhayul yang hanya memicu keretakan dan konflik.

Dalam karya Thomas Hobbes yakni Leviathan yang dibuat untuk pemecahan masalah dalam pergolakan yang terjadi dalam suatu negara. Karena Hobbes menjadi saksi hidup dimana Inggris mengalami prahara politik sosial, maka peristiwa itulah yang membuat Hobbes berprinsip dalam pembentukan suatu negara. Pemerintahan yang diktator menjadi solusi dalam pergolakan yang terjadi agar timbul keamanan dimana warga negaranya tidak bisa melakukan konfrontasi. Negarapun harus memproteksi diri dalam langkah antisipasi intervensi dari luar maupun kelompok oposisi yang akan mengancam stabilitas keamanan. Jika pemimpin negara bertindak otoriter, ia harus menekan rakyatnya agar harus selalu berkelakuan baik dan patuh.

Leviathan adalah nama binatang di dalam mitologi Timur Tengah yang amat buas.[4] Filosofi Leviathan ini yang dijadikan simbol suatu sistem negara. Maka dari itu negara atau pemimpin negara harus bertindak seperti Leviathan yang memiliki kuasa yang absolut. Mengadaptasi pemikiran Plato, menurut Hobbes sistem demokrasi hanya akan memecah belah negara dengan lahirnya kelompok – kelompok separatis dan menimbulkan terjadinya perang sipil. Lebih lanjut Hobbes mencontohkan kehancuran Athena disebabkan terbaginya kekuasaan dan tidak mutlaknya kekuasaan pemerintah. Sistem demokrasi hanya akan membagi – bagi kekuasaan yang nantinya terjadi pergulatan hanya dalam pemerintah itu sendiri  dalam mengambil keputusan dikarenakan banyaknya oknum yang memiliki hak di dalamnya. Negara hanya layak dipimpin oleh satu orang dimana ia memiliki kekuasaan yang mutlak serta mencegah terjadinya kebijakan yang berubah – ubah demi keamanan setiap individu di dalam negaranya.

Negara berhak bersifat absolut selama demi kepentingan rakyatnya. Status mutlak dimiliki negara sebab negara bukanlah rekan perjanjian, melainkan hasil dari perjanjian antar-warga negara.[5] Terbentuknya negara berasal dari mufakat warga negara tersebut, kesepakatan memberikan kuasa terhadap negara untuk menyelenggarakan pemerintahan demi terciptanya kebahagiaan rakyatnya. Apabila terjadi penyalahgunaan kekuasaan maka perlu ada kesadaran dari pihak yang berkuasa tersebut dan setiap warga negara berhak menentang serta melakukan perlawanan sebelum pemimpin tersebut menyimpang terlampau jauh.

Kemerdekaan menurut Hobbes adalah bukan bertindak sesuka hati karena setiap negara memiliki konstitusi namun kemerdekaan berarti bertindak lepas tanpa melanggar peraturan. Adapun karya lain Thomas Hobbes yang juga terkenal adalah De Cive yakni tentang kewarganegaraan.

Dalam hubungan internasional, pandangan Thomas Hobbes mengenai negara sangat mempengaruhi era setelahnya. Dimana lahir gerakan – gerakan yang menganut ideologi otoritarian seperi fasisme yakni gerakan radikal ideologi nasionalis otoriter politik. Kemudian dikenal sistem kediktatoran proletariat dimana didalamnya dibentuk organisasi kepartaian tunggal oleh kaum proletar yakni partai komunis. Pemerintahan yang otoriter juga dianut oleh beberapa negara, diantaranya negara – negara Timur Tengah yang pada masa sekarang ini satu per satu negara di kawasan tersebut telah menuntut reformasi di pemerintahan oleh rakyatnya.

Pengaruh pemikiran Hobbes sangat banyak mengilhami pemimpin – pemimpin negara untuk bertindak otoriter demi kemakmuran rakyat banyak khususnya kaum proletar. Namun pengekstriman sistem pemerintahan ini mulai menurun terutama di negara – negara kapitalis. Era keterbukaan mulai diperlihatkan negara – negara pada umumnya.  Pemerintahan negara tidak lagi konservatif dan usaha mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya tetap dipertahankan.


[1] Syam, Firdaus. “Pemikiran Politik Barat”. PT Bumi Aksara. Jakarta. 2010. Hal 117

[2] Syam, Firdaus. “Pemikiran Politik Barat”. PT Bumi Aksara. Jakarta. 2010. Hal 118

[3] Syam, Firdaus. “Pemikiran Politik Barat”. PT Bumi Aksara. Jakarta. 2010. Hal 118

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s